Home » » KI ENTHUS SUSMONO - BELAJAR DARI SLENTENG

KI ENTHUS SUSMONO - BELAJAR DARI SLENTENG

Wayang golek adalah bentuk teater rakyat yang sangat populer. Orang sering menghubungkan kata “wayang” dengan “bayang” karena dilihat dari pertunjukan wayang kulit yang memakai layar, dimana muncul bayangan-bayangan. Di Jawa Barat, wayang ada yang menggunakan boneka (dari kulit/wayang kulit atau kayu/wayang golek) dan ada yang dimainkan oleh manusia (wayang orang). Berkenaan dengan wayang golek, ada dua macam wayang golek, yakni wayang golek papak (cepak) dan wayang golek purwa yang ada di daerah Sunda. Semua wayang, kecuali wayang wong, dimainkan oleh dalang sebagai pemimpin pertunjukan yang sekaligus menyanyikan suluk, menyuarakan antawacana, mengatur gamelan, mengatur lagu dan lain-lain.[1]

            Berbicara mengenai dalang yang memainkan seni pertunjukan wayang golek, para pecinta wayang mungkin tidak asing lagi bila mendengar dalang edan Ki Enthus Susmono. Dalang edan ini berasal dari Tegal dan sudah menyabet berbagai penghargaan dalam sejarah karirnya. Dalam pertujukannya, Ki Enthus selalu memainkan Lupit sebagai peran utama. Akan tetapi, sebagai insan yang notabene adalah kaum awam terhadap dunia perwayangan, tokoh Lupit tidak bisa memberikan adegan-adegan yang mampu membuat pengunjung menjadi bersemangat untuk menonton pagelaran wayang tersebut. Dan tokoh yang mampu memberikan guyonan sekaligus pendidikan yang dimiliki Ki Enthus adalah Slenteng. Berikut adalah kutipan dialog yang terjadi dalam pagelaran wayang Ki Enthus dalam judul LUPIT SENENG TETULUNG.
                                    Kyai                :Assalamu’alaikum Lupit?
                                    Lupit               : Wa’alaikumsalam KYAI…
                                    Kyai                : Assalamu’alaikum Slenteng?
                                    Slenteng          : Wa’alaikumsalam TAI…

            Dialog di atas merupakan penggalan dialog dalam pagelaran wayang golek dengan dalang Ki Enthus dalam lakon LUPIT SENENG TETULUNG (Lupit Suka Menolong). Dalam pagelaran wayang golek tersebut, dikisahkan Lupit dan Slenteng merupakan murid dari sang Kyai, dan dialog di atas merupakan dialog awal dari beberapa dialog-dialog menarik dan Nyleneh yang tersaji dalam pagelaran tersebut.
Apabila kita cermati dialog tersebut, terdapat satu kata yang bisa dibilang tabu dan tidak pantas untuk dikatakan oleh seorang murid terhadap guru-nya, apalagi terhadap Kyai. Akan tetapi, Slenteng tetap santai dan penuh canda ketika ditegur oleh Lupit dan ditanya mengapa kata Kyai diplesetkan menjadi Tai. Slenteng pun menjawab, setelah sebelumnya menjawab dengan penuh canda, dengan kata-kata yang baik tanpa menyingung Kyai tersebut. Slenteng menjelaskan bahwa kata Kyai  terbentuk dari dua suku kata. Yaitu Kya dan Ci. Kya berarti jalan, dijelaskan bahwa kata Kya diambil dari kiasan seorang Kusir delman apabila menyuruh kudanya berjalan yaitu dengan kata kya, kya, kya. Dan kata Ci diambil dari bahasa sunda yang artinya air. Jadi, Kyai seharusnya dalam bertingkah laku seperti air, yang selalu menuju ke bawah.
Itulah tokoh Slenteng yang memiliki perwatakan apa adanya dan selalu menjalani hidup dengan penuh keikhlasan. Tokoh Slenteng selalu memberikan celotehan-celotehan menarik bagi para penonton tanpa melupakan mengartikan makna yang tersirat dalam celotehan tersebut. Apabila kita melihat wujud dari golek slenteng, kita mungkin tidak akan menduga jika tokoh tersebut ternyata memberikan peran yang sangat sentral walaupun Slenteng bukanlah tokoh utama dalam pertunjukan wayang golek ala Ki Enthus tersebut. Wujud dari golek Slenteng sendiri yakni, bentuk wajah seperti Hanoman (mulut agak lonjong ke depan), berkulit coklat agak kehitam-hitaman, selalu memakai pakaian berwarna merah, dan selalu memakai cindung (tutup kepala) bayi.

0 komentar:

Poskan Komentar